Hari pertama sekolah selalu membawa suasana yang berbeda. Di berbagai daerah, tampak antusiasme orang tua yang tinggi dalam mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Sebuah gerakan positif yang patut diapresiasi, karena secara simbolis ini menyampaikan pesan motivasi yang kuat bagi anak-anak: “Nak, Ayah hadir, Ibu hadir. Jangan takut, kami bersamamu. Hilangkan gundah, melangkahlah menuntut ilmu dengan percaya diri.”
Namun, di balik semangat yang membuncah ini, perlu juga kita sisipkan ruang untuk melakukan auto-kritik. Jangan sampai momentum ini sekadar menjadi ajang pamer kehadiran, yang kemudian terjebak dalam riuh penampilan dan kompetisi sosial yang tak disadari.
Kita perlu menyadari bahwa saat orang tua hadir, sejatinya mereka sedang mengajar, bukan hanya hadir secara fisik. Mereka sedang menjadi “guru pertama” dalam kehidupan sosial anak-anaknya. Maka, alangkah bijaknya jika momen ini juga dimanfaatkan untuk mengenalkan nilai-nilai empati dan kesetaraan. Misalnya, saling menyapa sesama orang tua, memperkenalkan anak-anak satu sama lain, menunjukkan kepada mereka bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar dari buku, tapi juga ruang membangun relasi dan menghargai keberagaman.
Sayangnya, kadang justru terjadi ironi. Orang tua yang datang dengan fasilitas mewah—mobil mahal, baju seragam custom, atau perlengkapan berlebihan—tanpa sadar bisa menciptakan tekanan sosial bagi anak-anak lain dan keluarganya. Apa yang semula diniatkan sebagai bentuk kasih sayang, bisa saja terbaca sebagai ajang unjuk kuasa sosial. Bukannya mendidik anak untuk peduli dan rendah hati, kita justru memperkenalkan mereka pada standar-standar semu yang menjauhkan nilai kesederhanaan.
Beruntunglah mereka yang hadir dengan kesederhanaan dan ketulusan. Mereka sedang memberi pelajaran hidup yang mahal: bahwa kasih sayang tidak diukur dari merek tas atau harga sepatu, melainkan dari kehadiran yang tulus dan pembelajaran sosial yang mereka wariskan. Sebab sejatinya, pendidikan karakter tidak dimulai di ruang kelas, tetapi di langkah kecil menuju gerbang sekolah—di mana anak melihat langsung bagaimana orang tuanya bersikap terhadap dunia.
Mari rayakan hari pertama sekolah, bukan hanya dengan bangga, tapi juga dengan bijak. Karena yang dilihat anak bukan hanya jalan menuju ruang kelas, tapi juga jalan menuju kedewasaan yang penuh empati dan tanggung jawab. (Y@n)